Suatu hal
yang terbesit dipikiranku, sejak mulai dapat menikmati indahnya
melihat, mendengar, merasakan, berbicara, bergerak, bahkan bernapas dengan mudahnya
tanpa harus berusaha mengumpulkan setoran rutin bersifat materil kepada sang
Maha Pemilik. Setiap kegiatan itu kujalani berulang-ulang hingga kepada Aku
yang saat ini.
Setiap peristiwa bagiku adalah pembelajaran
dan akan selalu belajar, meneliti secara akal sehat akan kebebasan diri sebagai
insan yang merdeka. Menelusuri banyak khazanah ilmu yang belum kuketahui atau
bahkan hanya kulewati saja tanpa mampir, dan mengambil manfaatnya sekedar tahu
saja misalnya ?. Tapi pertanyaannya apakah Aku seorang pelajar ? dan sudahkah
Aku berada di taraf pelajar yang baik yang diketahui kebanyakan adalah orang yang haus akan ilmu ?.
Cerita yang diangkat dari pengalaman
pribadi, sekilas akan terasa sepele. Namun jika kita mau meluangkan untuk
berpikir serta merenungi lebih dalam, akan banyak penyesalan yang memberontak
dalam batin ini. Kekesalan itu dimuarakan kepada mimik rekuk wajah disetiap
urat-uratnya yang bergerak.
Pagi yang cerah di hari Rabu, tak akan
tertinggal pula hiruk pikuk kemacetan ala kota metropolitan yang kekinian.
Seperti hari biasa dan sebelumnya, Aku menggunakan jasa angkutan umum menuju
kampus tempat menimba ilmu sekarang. Ketika telah sampai Aku
langsung mengambil posisi bangku yang nyaman untuk mengikuti mata kuliah pagi
itu.
Takkan bisa ditolak keramaian dan kegaduhan
insan-insan muda di lingkup pendidikan terasa disela-sela menunggu Mahaguru
datang, termasuk Aku sendiri. Dirasa tidak ada yang begitu penting selain
mengobrol, sarapan, bercanda atau akses internet. Seakan tak punya tujuan utama
walau hanya satu hari itu jua. Entah hal demikian dijalani dengan sangat biasa,
juga begitu dinikmati secara berulang-ulang dan berhari-hari.
“Eh, pak Diaz datang!” ucap seorang
teman kelas yang telah melihat kedatangan dosen lebih dulu. Segera mungkin kami
merapikan kondisi kelas dan berusaha tenang. Sebelumnya dosen yang sedang berada di
dalam kelas kami sekarang ini, tidak akan membuka pelajaran apabila kami tidak
memulai dengan berdoa, sebab bagi beliau tanda bahwa belum siap untuk diberikan
ilmu. Ketua kelas pun memulai memimpin doa,kemudian berdoalah kami.
“Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh selamat pagi semua
semoga kita baik-baik semua ya, baik disini Bapak tidak dapat berlama-lama
bersama kalian,karena ada suatu hal diluar yang mesti Bapak selesaikan. Jadi
untuk pertemuan kali ini singkat saja.”
Setelah pemberitahuan tersebut, Beliau memaparkan beberapa penjelasan masih berkaitan dengan dakwah,Aku sedikit lupa apa yang beliau bahas ketika itu. Namun yang kuingat adalah beliau bertanya kepada kami tentang suatu hal “pada ayat Al Qur’an mana yang memerintahkan kita untuk beribadah sholat malam?” lanjut beliau menambahkan disela keheningan kami yang sedang berpikir. “Ayo, siapa yang bisa menjawab pertanyaan dari Bapak, Bapak pastikan nilai semesternya langsung A”.
Setelah pemberitahuan tersebut, Beliau memaparkan beberapa penjelasan masih berkaitan dengan dakwah,Aku sedikit lupa apa yang beliau bahas ketika itu. Namun yang kuingat adalah beliau bertanya kepada kami tentang suatu hal “pada ayat Al Qur’an mana yang memerintahkan kita untuk beribadah sholat malam?” lanjut beliau menambahkan disela keheningan kami yang sedang berpikir. “Ayo, siapa yang bisa menjawab pertanyaan dari Bapak, Bapak pastikan nilai semesternya langsung A”.
Benar
saja, seluruh pelajar dikelas tampak tercengang dengan penawaran beliau. Siapa
yang tidak mau? Dipikiranku juga bergumam “Wah enak sekali,nggak usah
payah-payah UAS lagi dong?”. Namun, dari sebanyak jumlah kami tidak satupun
yang dapat menjawab. Tampak terkunci dan bungkam, ditambah ekspresi wajah yang
gemas.
Pertanyaan ini sangat umum sering kali juga didengar pada keseharian, tetapi mengapa seperti tidak dimudahkan untuk terjawab ?. Pengetahuan yang sempat bertandang itu seperti gagal disimpan pada ingatan.
Pertanyaan ini sangat umum sering kali juga didengar pada keseharian, tetapi mengapa seperti tidak dimudahkan untuk terjawab ?. Pengetahuan yang sempat bertandang itu seperti gagal disimpan pada ingatan.
Dilanjutkan dengan pertanyaan kedua,
“Baik, tidak ada yang bisa jawab. Bapak ganti ya, ini dua lho Bapak obral. Siapakah
perawi yang meriwayatkan hadist yang berbunyi perintah untuk sholat malam?”.
Masih berputar pada pertanyaan yang serupa,tetap saja seisi kelas tak ada yang mampu menjawab dan hanya mengoceh-ngoceh kecil berbisik seperti “Aduh Pak,lupa aduh itu pertanyaannya gurih, gurih pak duh duh nanti Pak lain kali lagi kayak gini, tak kuingetin duuh renyah banget pertanyaannya”.
Masih berputar pada pertanyaan yang serupa,tetap saja seisi kelas tak ada yang mampu menjawab dan hanya mengoceh-ngoceh kecil berbisik seperti “Aduh Pak,lupa aduh itu pertanyaannya gurih, gurih pak duh duh nanti Pak lain kali lagi kayak gini, tak kuingetin duuh renyah banget pertanyaannya”.
Ya, tetap saja intinya tidak satupun dapat
menjawab, termasuk diriku. Aku tertunduk malu,pertanyaan semudah itu saja tak
mampu dijawab. Masih seputar sholat malam (qiyamul lail). Lidah dan
pikiran ini seakan lumpuh. Sesak dadaku saat itu,tapi hanya bisa diam. Alangkah
berharganya setiap ilmu sekecil apapun itu ,bahkan yang tak sering terjamah sekalipun.
Peristiwa yang menjelaskan secara gamblang
pada diriku yang miskin akan ilmu ini, dengan fasilitas ciptaan lengkap dan
waktu kontrak hidup yang cukup panjang, hingga setua ini. Ilmu bukan hanya untuk
sekedar tahu saja namun apabila tak mengenal, itulah yang menyebabkan
terlupakan. Mengajarkan Aku bagaimana mencari dan bagaimana seharusnya memperlakukan ilmu.
“Menuntut ilmu adalah takwa. Menyampaikan
ilmu adalah ibadah, mengulang-ngulang ilmu adalah zikir, mencari ilmu adalah
jihad”
– Imam Al-Ghazali –
“Apabila kau tak tahan pahitnya mencari
ilmu, maka bersiaplah menahan perihnya kebodohan” –
Imam Asy-Syafi’i –
~ Balqist ~
~ Balqist ~

Komentar
Posting Komentar